Agustus Dan Narasi Kemerdekaan Yang Selalu Berulang - Kamplongan
NEWS  

Agustus dan Narasi Kemerdekaan yang Selalu Berulang

Pengunjung mengibarkan bendera Merah Putih di Taman Wisata Alam (TWA) Ijen Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (4/5/2023).  Foto: Budi Candra Setya/ANTARA FOTO
Pengunjung mengibarkan bendera Merah Putih di Taman Wisata Alam (TWA) Ijen Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (4/5/2023). Foto: Budi Candra Setya/ANTARA FOTO

Menjelang perayaan hari ulang tahun Republik Indonesia, diadakan berbagai kegiatan yang semuanya ditujukan untuk merayakan kemerdekaan Indonesia. Ada yang melaksanakan dialog kebangsaan, ada yang menggelar workshop hingga lomba yang melibatkan masyarakat di tingkat RT.

Kami juga bisa menebak bahwa Kalian juga pernah terlihat di perayaan ke-17. Entah sebagai peserta atau panitia acara atau mungkin sekedar penggembira. Tapi kemudian saya buru-buru menjelaskan, saya tidak mau membahas perlombaan yang diadakan di setiap gang. Terutama lomba panjat pinang.

Yang mengganggu saya saat itu adalah narasi kemerdekaan yang selalu berulang. Selalu dilempar menjelang peringatan 17 Agustus. Dan, ini terjadi hampir di semua kegiatan resmi, baik diskusi ilmiah maupun dialog yang bisa didengarkan di radio.

Tahun lalu, saya ingat betul, ketua organisasi tempat saya bergabung diundang di salah satu stasiun radio. Temanya tidak jauh dari pemuda dan kemerdekaan. Ia diundang dalam kapasitasnya sebagai ketua organisasi kepemudaan ternama. Tentunya sebagai kader sejati harus memperhatikan apa yang nantinya akan diarahkan oleh ketua.

"Kawan-kawan kita pasti bangga karena negara kita merdeka dengan perjuangannya sendiri. Dengan darah dan air mata. Sedangkan Malaysia merdeka karena pemberian Inggris."

Kami kecewa. Sangat kecewa dengan presentasi ketua saya. Itu tidak sesuai dengan harapan saya. Karena sebelum diskusi diadakan saya sudah mempersiapkan diri dengan baik, saya akan mendengarkan dengan seksama. Tentu saja pembahasannya adalah daging.

Begitu dia menyampaikan hal-hal yang sudah diketahui publik, saya menjadi lemah. Entah apa pentingnya presenter menyampaikan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diulang. Toh masih banyak hal yang harus digali dan dijelaskan.

Parahnya lagi, pimpinan organisasi saya sangat bangga berbagi informasi ketika diminta menjadi narasumber. Tak berhenti sampai di situ, ia bahkan mengunggahnya di Facebook. Dia pasti sangat bangga. Itu juga harus disertai dengan presentasi yang berkualitas.

***

Seorang kenalan mengirimkan selebaran melalui aplikasi instant messenger. Isinya ajakan untuk ikut diskusi online. Selain mendapatkan uang untuk mengganti paket data, yang tak kalah menarik adalah presenternya adalah ketua partai tempat saya tinggal. Bonus lainnya, ketua partai adalah salah satu idola saya di bidang politik lokal.

Jadi undangan adalah bonus yang sangat mahal. Kami mencatat tanggal dan waktu pelaksanaannya dengan tepat agar saya bisa mengikuti diskusi daring tersebut. Tidak berhenti sampai di situ saya membagikan flyer diskusi online tersebut ke beberapa grup WhatsApp.

Kamingnya saat pelaksanaan, saya kembali kecewa. Karena materi yang disampaikan para narasumber dan (termasuk ketua partai) hanyalah hal-hal yang bersifat umum. Ini adalah sesuatu yang banyak diketahui oleh masyarakat. Ya, tentang kemerdekaan. Ya, tentang kisah kepahlawanan para pejuang.

Nampaknya narasi kemerdekaan Indonesia selalu berulang. Apa yang dikatakan adalah sama. Kalau sudah tahu ini, buat apa panitia repot-repot mengadakan diskusi. Tujuan diskusi adalah untuk menjelaskan hal-hal baru yang belum banyak diketahui oleh masyarakat.

Apalagi soal kemerdekaan dan kepemudaan, tentu banyak hal yang kemudian bisa disampaikan ke publik. Ini bukan hanya tentang memberikan kemerdekaan.

Artikel ini kemudian dapat digunakan sebagai panduan bagi narasumber potensial dalam diskusi yang akan diadakan. Kami paham betul bahwa akan banyak diskusi yang dilakukan oleh berbagai ormas dan pemerintah, yang tentunya akan diakhiri dengan perayaan 17 Agustus.

Jadi, jangan nanti membuat peserta diskusi kecewa karena narasi kemerdekaan yang berulang-ulang. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan mengkaitkan kondisi kemerdekaan dengan permasalahan hari ini. Bisa juga mengasosiasikan kemerdekaan dengan menyambut tahun politik. Apakah itu bekerja? Bisa asalkan presenter banyak membaca dan tidak mau terjebak pada hal-hal umum.

https://kumparan.com/arfahandera856/agustus-dan-narasi-kemerdekaan-yang-selalu-berulang-20xQq8bV5f0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: