Prediksi Pasar Otomotif Indonesia 2 Juta Unit Meleset, Perlu Relaksasi Pajak - Kamplongan

Prediksi Pasar Otomotif Indonesia 2 Juta Unit Meleset, Perlu Relaksasi Pajak

Ekspor mobil Toyota Indonesia.  Foto: dok.  Toyota Indonesia
Ekspor mobil Toyota Indonesia. Foto: dok. Toyota Indonesia

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengakui pajak menjadi salah satu kendala untuk mendorong pasar otomotif nasional.

“Kami selalu membandingkan dengan Thailand, lho. Tapi pernahkah kita membandingkannya dengan pajak? Penggunaannya di Thailand bisa dibilang setengah dari apa yang ada di Indonesia. Sehingga pasar Kita juga mentok, pajak kita termasuk PPnBM, lalu bea balik nama, PPN ya,” kata Bob saat berbincang dengan sejumlah awak media di Karawang Plant 2, Jawa Barat, Senin (8/7).

Ekspor mobil Toyota Indonesia.  Foto: dok.  Toyota Indonesia
Ekspor mobil Toyota Indonesia. Foto: dok. Toyota Indonesia

Dia mengambil contoh pandemi COVID-19 di mana pemerintah menerbitkan DPT PPnBM yang langsung distimulasi pasar.

“Walaupun biaya transfernya masih ada, sebenarnya kalau dibandingkan dengan Thailand, pasar kami menyukainya. Tahun 2016 atau 2017 diproyeksikan pasar kita mencapai 2 juta unit, sekarang (sebenarnya) 1,1 juta unit,” katanya.

Ekspor mobil Toyota produksi Indonesia dari Pelabuhan Patimban, Selasa (8/3).  Foto: dok.  TMMIN
Ekspor mobil Toyota produksi Indonesia dari Pelabuhan Patimban, Selasa (8/3). Foto: dok. TMMIN

Berkaca dari realisasi program PPnBM DPT, volume penjualan mobil meningkat namun pajak yang disetor ke negara juga meningkat.

“Jadi sebenarnya untuk ekonomi dampaknya positif, tapi dari sisi kebijakan publik sepertinya tidak populer karena terkesan memberikan insentif bagi orang kaya. Itu mungkin menjadi masalah juga bagi pemerintah,” jelasnya.

Menurut Bob, semua pihak harus duduk bersama untuk mempelajari faktor-faktor yang menghambat perkembangan pasar.

“Dari segi pajak, Singapura rata-rata 17 persen, di Indonesia 22 persen. Di satu sisi kita harus ada pajak untuk penghasilan yang kemudian dibagikan kepada masyarakat. Tapi di sisi lain, kita juga harus melihat pajak persis pada tingkat apa yang dapat dioptimalkan penghasilan negara tetapi ekonomi juga berkembang,” jelasnya.

Ekspor mobil Toyota produksi Indonesia dari Pelabuhan Patimban, Selasa (8/3).  Foto: dok.  TMMIN
Ekspor mobil Toyota produksi Indonesia dari Pelabuhan Patimban, Selasa (8/3). Foto: dok. TMMIN

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohannes Nangoi optimis penjualan mobil mampu mencapai 1.075.000 unit hingga akhir 2023.

Menurut Organization Internationale des Constructeurs d’Automobiles atau OICA, Indonesia merupakan negara ke-11 dengan jumlah produksi mobil terbanyak di dunia. Nangoi menargetkan, Indonesia bisa masuk 10 besar negara penghasil mobil terbanyak.

Melihat Proses Produksi All New Kijang Innova Zenix Foto: Gesit Prayogi/kumparan.com
Melihat Proses Produksi All New Kijang Innova Zenix Foto: Gesit Prayogi/kumparan.com

Salah satu upaya yang didorong adalah perluasan pasar ekspor untuk memaksimalkan kapasitas produksi dalam negeri yang mencapai 2,4 juta unit per tahun. "Ekspor tahun lalu sebesar 470 ribu untuk CBU. Diharapkan tahun ini mencapai 500 ribu. Dan pada 2025-2026 akan melonjak menjadi satu juta kendaraan," kata Nangoi.

Adapun ekspor CBU, masih mengacu data Gaikindo, mencapai 248.004 unit sepanjang Januari-Juni 2023, di mana 56,2 persen di antaranya merek Toyota.

https://kumparan.com/kumparanoto/prediksi-pasar-otomotif-indonesia-2-juta-unit-meleset-perlu-relaksasi-pajak-1vTTSpEweHg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: